Tampilkan postingan dengan label Temperatur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Temperatur. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 03 Desember 2011

Horizontal Distribution of Salinity and Temperature on Merbok Estuary, Malaysia

0 komentar
Muhammad Syukri
Jurusan Fisika/Geofisika, FMIPA, Universitas Syiah Kuala, Kopelma Darussalam
Banda Aceh 23111,lndonesia. Telp: 0651-7410248,Fax: 0651-7551831

Email: m.syukri@unsyiah.net

Abstrak
 
Telah dilakukan studi mengenai karakteristik dan distribusi salinitas dan temperatur dan water system di estuaria Merbok dan di sekitar perairan pantai. Penelitan ini difokuskan pada proses-proses fisika. Hasil analisis menun-jukkan suatu pola variabilitas khusus mengenai fenomena yang terjadi secara horizontal. Pada kondisi debit air (discharge) yang tinggi, air dengan salinitas (isohalines) rendah akan terdapat di dekat mulut sungai. Pada kondisi debit air rendah, keberadaan airsungai mengisi Iebihjeias di estuaria bagian bawah. Pola yangsamajuga teramati untuk parameter temperatur di daerah yang sama yang disebabkan rendahnya debit sungai. Dengan debit yang lebih tinggi dapat menyebabkan perubahan temperatur air payau dibandingkan debit yang lebih rendah. Hal ini menyebabkan terjadi prases transisi stratifikasi antara debit air yang tinggi dan rendah tersebut. Kata kunci: debit sungai (discharge), salinitas, temperatur, perairan pantai, estuaria.

Abstract
 
The characteristics and distribution of the salinity and temperature and water systems in the Merbok Estuary and nearby coastal waters are examined. This research focuses mainly on physical processes. The results analysis provides an insight the typical scales of variability of the horizontal phenomena. During high discharges, the lower salinity water (isohalines) was more evident near the estuary mouth due to high discharge. During low discharge, the invasion of freshwater in the lower estuary was much less pronounced. Similar temperature trend was observed for the estuary possibly due to low discharge phenomenon. Bigger amount of freshwater can dictate the brackish water temperature compare to smaller amount of freshwater. There was a transition in stratification between high and low river discharge.
 
Key words : river discharge; salinity; temperature; coastal water; estuary

Full Text
Read more...
Jumat, 02 Desember 2011

Coupled Pattern Analysis of Sea Surface Temperature and TOPEX/Poseidon Sea Surface Height

0 komentar
ERIC W. LEULIETTE* AND JOHN M. WAHR
Department of Physics and CIRES, University of Colorado, Boulder, Colorado
(Manuscript received 10 April 1997, in final form 14 May 1998)

ABSTRACT
Though thermal effects dominate steric changes in sea level, the long-period contribution of thermal expansion to sea level is uncertain. Nerem et al. found that a global map of sea surface temperature (SST) trends and a corresponding map of TOPEX/Poseidon-derived sea surface height (SSH) trends were strongly correlated. Thisresult is explored with a coupled pattern analysis (CPA) between five years of global SST and SSH, which allows for matching of modes of common temporal variability. The dominant mode found is an annual cycle that accounts for nearly all (95.3%) of the covariance between the fields and has a strong SST/SSH spatial correlation (0.68). The spatial correlation is strong in both the Atlantic (0.80) and the Pacific (0.70). Good temporal and spatial agreement between the SSH and SST fields for the primary seasonal mode suggests that a robust regression between fields may have some physical significance with respect to thermal expansion and that the regression coefficient might be a proxy for the mixing depth of the mode. The value of the regression coefficient, H, scaled by a thermal expansion coefficient of 2 3 1024 8C21 is 40 m for this mode, and ranges from 33 to 47 m among the basins. The primary mode of a nonseasonal CPA is an interannual mode that captures 38.0% of the covariance and has significant spatial correlations (0.54) between SSH and SST spatial patterns. The spatial pattern and temporal coefficients of this mode are correlated with ENSO events. A robust regression between fields finds that the nonseasonal modes have a regression coefficient 2–4 times that of the seasonal modes, indicative of deeper thermal mixing. The secondary nonseasonal mode captures most of the secular trend in both fields during the period examined. The temporal coefficients of this mode lag those of primary mode. Evidence is presented that this mode is consistent with the behavior expected from secular trends that are dominantly forced by thermal expansion.


Read more...

Temperatur di Lautan

0 komentar
Temperatur adalah salah satu sifat fisik yang paling penting dari air laut. Salinitas dan temperatur bersama-sama mengontrol densitas air laut. Temperatur air laut mengontrol distribusi dari organisme laut dan ikan. Karena temperatur dapat mempengaruhi proses kimia (metabolisme), temperatur air laut memiliki efek yang besar pada proses kehidupan ikan.
Perubahan temperatur air laut dapat mengakibatkan perubahan aktivitas tubuh pada ikan. suhu permukaan laut mempengaruhi sifat udara permukaan di atas lautan. struktur suhu vertikal mempengaruhi propagasi suara di laut dan oleh karena itu penting untuk perang anti-kapal selam. Suhu air laut merupakan indikasi perubahan lainnya dan kondisi di laut seperti intensitas upwelling, arus, dan batas massa air (Reddy, 2001).
Temperatur adalah ukuran panas-dinginnya dari suatu benda. Panas-dinginnya suatu benda berkaitan dengan energi termis yang terkandung dalam benda tersebut. Makin besar energi termisnya, makin besar temperaturnya. Ada beberapa yang dapat digunakan untuk menentukan suhu mutlak T. Satuan dari T adalah Kelvin, yang memiliki simbol K. Proses dasar yang digunakan untuk menentukan skala suhu mutlak atas kisaran suhu yang ditemukan di laut meliputi (Soulen dan Fogle, 1997): 1) hukum gas yang berhubungan tekanan untuk temperatur gas ideal dengan koreksi untuk kerapatan gas; dan 2) gangguan tegangan dari resistensi R (Stewart, 2008).
            Stewart (2008) juga menambahkan, temperatur merupakan ukuran energi gerakan molekul dan dinotasikan dengan T. Satuan internasional untuk temperatur adalah K (Kelvin) atau oC (Celcius), dimana :  t [oC] = T [K] - 273,15. 
Sebaran Temperatur Permukaan Laut (oC).

Perubahan tekanan, evaporasi, hujan, masukan air sungai serta pembekuan dan pencairan es merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi temperatur (Surinati,2009).

Distribusi Temperatur terhadap Kedalaman
            Secara umum, temperatur di laut akan berkurang dengan bertambahnya kedalaman. Pada kedalaman 200-300 meter dan 1000 meter, temperatur akan turun dengan cepat. Daerah ini dikenal sebagai termoklin permanen. Pada lapisan 1000 meter kebawah menuju dasar laut tidak  mengalami variasi musiman dan temperatur turun perlahan antara 0oC dan 3oC. Di atas termoklin pemanen, distribusi temperatur terhadap kedalaman menunjukkan variasi musiman terutama di lintang tengah. Pada musim dingin, ketika temperatur rendah  lapisan permukaan tercampur akan melebar ke termoklin pemanen. Pada musim panas, temperatur permukaan naik, termoklin musiman sering terbentuk di atas termoklin pemanen. Termoklin musiman terbentuk pada musim semi dan maksimum (laju perubahan tempeatur terbesar/gradien temperatur paling tajam) terjadi pada musim panas. Angin musim dingin yang dingin dan kuat meningkatkan kedalamn termoklin musiman dengan cepat dan menurunkan gradien tempeatur, selanjutnya lapisan campuran akan mencapai ketebalan penuh sebesar 200-300 meter. Di lintang rendah (ekuator) tidak terdapat musim dingin, sehingga termoklin musiman menjadi pemanen dan bergabung dengan termoklin pemanen pada kedalaman 100-150 meter. Di lintang tinggi yang lebih besar dari 60o, tidak ada termoklin pemanen.

 
Sebaran Temperatur Terhadap Kedalaman (Supangat, 2000).


Read more...

Labels

 
PERPUSTAKAAN MARINE SCIENCE 07 © 2011

TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG KE LAMAN KAMI