Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 13 Januari 2012

Ekosistem Padang Lamun

0 komentar

Pendahuluan
Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri lebih dari 17.508 buah pulau besar dan kecil dengan panjang garis pantai sekitar 81.000 km (Soegiarto, 1984). Indonesia sebuah negara yang dilalui oleh garis khatulistiwa (tropis) mempunyai keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Lamun, salah satu jenis tumbuhan laut yang tumbuh diperairan Indonesia. Kawasan Lamun selain memiliki nilai secara ekonomis, juga memiliki potensi secara ekologis. Perhatian terhadap ekosistem padang lamun (seagrass beds) masih sangat kurang dibandingkan terhadap ekosistem bakau (mangrove) dan terumbu karang (coral reefs). Padahal, lestarinya kawasan pesisir pantai bergantung pada pengelolaan yang sinergis dari ketiganya. Terlebih, padang lamun merupakan produsen primer organik tertinggi dibanding ekosistem laut dangkal lainnya.

Sebagai produsen primer, lamun sangat tinggi keanekaan biotanya. Padang lamun menjadi tempat perlindungan dan tempat menempel berbagai hewan dan tumbuhan laut (algae). Lamun juga menjadi padang penggembalaan dan makanan dari berbagai jenis ikan herbivora dan ikan karang.

Definisi Lamun
Lamun merupakan bentangan tumbuhan berbiji tunggal (monokotil) dari kelas angiospermae. Lamun adalah tumbuhan air yang berbunga (spermatophyta) yang hidup dan tumbuh terbenam di lingkungan laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, dan berakar.  Keberadaan bunga dan buah ini adalah faktor utama yang membedakan lamun dengan jenis tumbuhan lainnya yang hidup terbenam dalam laut lainnya, seperti rumput laut (seaweed).  Hamparan lamun sebagai ekosistem utama pada suatu kawasan pesisir disebut sebagai padang lamun (seagrass bed).

Secara struktural lamun memiliki batang yang terbenam didalam tanah, disebut rhizom atau rimpang.  Rimpang dan akar lamun terbenam di dalam substrat yang membuat tumbuhan lamun dapat berdiri cukup kuat menghadapi ombak dan arus.

Lamun memiliki dua bentuk pembungaan, yakni  monoecious (dimana bunga jantan dan betina berada pada satu individu) dan dioecious (dimana jantan dan betina berada pada individu yang berbeda). Peyerbukan terjadi melalui media air (penyerbukan hydrophyllous).

Klasifikasi dan Morfologi
Tumbuhan lamun terdiri dari akar rhizome dan daun. Rhizome merupakan batang yang terpendam dan merayap secara mendatar dan berbuku-buku. Pada buku-buku tersebut tumbuh batang pendek yang tegak ke atas,berdaun dan berbunga. Pada buku tumbuh pula akar (Nontji,1993). Lamun memiliki daun-daun tipis yang memanjang seperti pita yang mempunyai saluran-saluran air (Nybakken, 1992). Bentuk daun seperti ini dapat memaksimalkan difusi gas dan nutrien antara daun dan air, juga memaksimalkan proses fotosintesis di permukaan daun (Philips dan Menez, 1988).

Image
Morfologi Lamun

 
Ciri Ekologis
Masing masing biota laut mempunyai kekhasan fungsinya masing masing. Lamun, baik secara individu ataupun kelompok (padang lamun) dalam perairan laut mempunyai ciri-ciri ekologis antara lain adalah :
  • Terdapat di perairan pantai yang landai, di dataran lumpur/pasir untuk mengokoh perakarannya.
  • Hidup pada batas terendah daerah pasang surut agar suplai air dan nutrisi bisa terpenuhi sertadekat hutan bakau atau di dataran terumbu karang y
  • Mampu hidup sampai kedalaman 30 meter dan lebih dalam lagi selama sinar matahari masih bisa masuk kedalam perairan guna membantunya dalam proses fotosintesisi, sehingga angat tergantung pada cahaya matahari yang masuk ke perairan
  • Hidup di perairan tenang dan terlindungi.
  • Mampu melakukan proses metabolisme secara optimal jika keseluruhan tubuhnya terbenam air.
  • Mampu hidup di media air asin
  • Mempunyai sistem perakaran yang berkembang baik.


Fungsi dan Peranan
Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem ini hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, Krustasea, Moluska ( Pinna sp., Lambis sp., dan Strombus sp.), Ekinodermata (Holothuria sp., Synapta sp., Diadema sp., Arcbaster sp., Linckia sp.) dan cacing (Polichaeta) (Bengen, 2001).

Lamun kadang-kadang membentuk suatu komunitas yang merupakan habitat bagi berbagai jenis hewan laut. Komunitas lamun ini juga dapat memperlambat gerakan air. bahkan ada jenis lamun yang dapat dikonsumsi bagi penduduk sekitar pantai. Keberadaan ekosistem padang lamun masih belum banyak dikenal baik pada kalangan akdemisi maupun masyarakat umum, jika dibandingkan dengan ekosistem lain seperti ekosistem terumnbu karang dan ekosistem mangrove, meskipun diantara ekosistem tersebut di kawasan pesisir merupakan satu kesatuan sistem dalam menjalankan fungsi ekologisnya.

Lamun hidup dan terdapat pada daerah mid-intertidal sampai kedalaman 0,5-10 m. Namun sangat melimpah di daerah sublitoral. Jumlah spesies lebih banyak terdapat di daerah tropik dari pada di daerah ugahari (Barber, 1985). Lamun  mempunyai peran penting ditinjau dari beberapa aspek diantaranya:
  • Keanekaragaman hayati: Padang lamun memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi.  Indonesia diperkirakan memiliki 13 jenis lamun.  Selain itu padang lamun juga merupakan habitat penting untuk berbagai jenis hewan laut, seperti: ikan, moluska, krustacea, ekinodermata, penyu, dugong, dll.
  • Kualitas air: Lamun dapat membantu mempertahankan kualitas air.
  • Perlindungan: Lamun dapat mengurangi dampak gelombang pada pantai sehingga dapat membantu menstabilkan garis pantai. Serta memberikan perlindungan pada biota disekitarnya.
  • Ekonomi: Padang lamun menyediakan berbagai sumberdaya yang dapat digunakan untuk menyokong kehidupan masyarakat, seperti untuk makanan, perikanan, bahan baku obat, dan pariwisata.
  • Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem, ini hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustasea, moluska ( Pinna sp, Lambis sp, Strombus sp), Ekinodermata (Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp, Linckia sp) dan cacing ( Polichaeta) (Bengen, 2001).
  •  Secara ekologis padang lamun memiliki peranan penting bagi ekosistem. Lamun merupakan sumber pakan bagi invertebrata (feeding Ground), tempat tinggal dan tempat asuhan biota perairan agar tidak tersapu arus laut (nursery ground), serta tempat memijah (spawning ground) melindunginya dari serangan predator. Lamun juga menyokong rantai makanan dan penting dalam proses siklus nutrien serta sebagai pelindung pantai dari ancaman erosi ataupun abrasi (Romimohtarto dan Juwana, 1999).
  • Ekosistem Padang Lamun memiliki diversitas dan densitas fauna yang tinggi dikarenakan karena gerakan daun lamun dapat merangkap larva invertebrata dan makanan tersuspensi pada kolom air. Alasan lain karena batang lamun dapat menghalangi pemangsaan fauna bentos sehingga kerapatan dan keanekaragaman fauna bentos tinggi.
  • Daerah Padang Lamun dengan kepadatan tinggi akan dijumpai fauna bentos yang lebih banyak bila dibandingkan dengan daerah yang tidak ada tumbuhan lamunnya. Menurut Romimohtarto dan Juwana (1999) ekosistem lamun memiliki kerapatan fauna keanekaragaman sebesar 52 kali untuk epifauna dan sebesar 3 kali untuk infauna dibandingkan pada daerah hamparan tanpa tanaman lamun.


Parameter Lingkungan
Parameter yang mempengaruhi kehidupan dan pertumbuhan lamun adalah sebagai berikut ;
  • Suhu
Suhu merupakan faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme dilautan,karenasuhu mempengaruhi aktifitas metabolisme ataupun perkembangbiakan dari organisme-organisme tersebut (Hutabarat dan Evans, 1986). Toleransi suhu dianggap sebagai faktor enting dalam menjelaskan biogeografi lamun dan suhu yang tinggi di perairan dangkal dapat juga menentukan batas kedalaman minimum untuk beberapa spesies (Larkum et al., 1989). Kisaran suhu optimal bagi spesies lamun untuk perkembangan adalah 28°C-30°C, sedangkan untuk fotosintesis lamun membutuhkan suhu optimum antara 25°C-35°C dan padasaat cahaya penuh. Pengruh suhu bagi lamun sangat besar, suhu mempengaruhi proses-proses fisiologi yaitu fotosintesis, laju respirasi, pertumbuhan dan reproduksi. Proses-proses fisiologi tersebut akan menurun ajam apabila suhu pereairan berada diluar kisaran tersebut (Berwick, 1983).

  • Arus
     Arus merupakan gerakan mengalir suatu masa air yang dapat disebabkanoleh tiupan angin,perbedaan densitas air laut ata dapat pula disebabkan oleh gerkan periodik jangka panjang.Arus yang disebabkan oleh gerakan periodikjangka panjang ini antara lain arus yang disebabkan oleh pasang surut (pasut).Arus yang disebabkan oleh pasang surut biasanyaa banyak diamatidiperairan teluk dan pantai (Nontji,1993). 

Kecepatan arus perairan berpengaruh pada produktifitas padang lamun. Turtle grass dapat menghasilkan hasil tetap (standing crop) maksimal pada kecepatan arus 0.5m/det (Dahuri et al., 1996). Arus tidak mempengaruhi penetrasi cahaya, kacuali jika ia mengangkat sedimen sehingga mengurangi penetrasi cahaay. Aksi menguntungkan dari arus terhaap organisme terletak pada transport bahan makanantambahna bagi porganisme dan dalam hal pengangkutan buangan (Moore, 1958). Pada daerah yang arusnya cepat, sedimen pada padang lamunterdiri dari lumpur halus dan detritus.Hal ini mennunjukkan kemampuan tumbuhan lamun untuk mengurangi pengaruh arus sehingga mengurangi transport sedimen (Berwick, 1983 dalam Mintane,1998).

  • Salinitas
     Salinitas atau kadar garam yaitu jumlah berat semua garam (dalam gram) yang terlarut dalam satu liter air,biasanya dinyatakan dalam satuan °/oo(permil).Sebaran salinitas dilaut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai (Nontji, 1993). Spesies padang lamun mempunyai toleransi yang berbeda-beda, namuyn sebagaian besar memiliki kisaran yang lebar yaitu 10 °/oo-40°/oo. Nilai optimum toleransi lamun terhadap salinitas air laut pada nilai 35°/oo (Dahuri et al,. 1996).

  • Kecerahan
     Kecerahan perairan menunjukkan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu. Pada perairan alami, kecerahan sangat penting karena erat kaitannya dengan proses fotosintesis. Kebutuhasn cahaya yang tinggi bagi lamun untuk kepentingan fotosintesis terlihat dari sebarannya yang terbatas pada daerahyang masih menerima cahaya matahari (Berwick, 1983 dalam Mintane, 1998). Nilai kecerahan perairan sangat dipengaruhi oleh kandungan Lumpur,kandugan plankton, dan zat-zat terlarut lainnya (Birowo et al dalam Mintane 1998).

  • Kedalaman

Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal. Lamun tumbuh di zona intertidal bawah dan subtidal atas hingga mencapai kedalaman 30 m. Zona intertidal dicirikan oleh tumbuhan pionir yang didominasi oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Holodule pinifolia. Sedangkan Thalassodendron ciliatum mendominasi zona intertidal bawah (Hutomo 1997).Selain itu, kedalaman perairan juga berpengaruh terhadap kerapatan dan pertumbuhan lamun. Brouns dan Heijs (1986) mendapatkan pertumbuhan tertinggi E. acoroides pada lokasi yang dangkal dengan suhu tinggi. Selain itu di Teluk Tampa Florida ditemukan kerapatan T. testudinwn tertinggi pada kedalaman sekhar 100 cm dan menurun sampai pada kedalaman 150 cm (Durako dan Moffler 1985).

  • Nutrien
      Dinamika nutrien memegang peranan kunci pada ekosistem padang lamun dan ekosistem lainnya. Ketersediaan nutrien menjadi fektor pembatas pertumbuhan, kelimpahan dan morfologi lamun pada perairan yang jernih (Hutomo 1997). Unsur N dan P sedimen berada dalam bentuk terlarut di air antara, terjerap/dapat dipertukarkan dan terikat. Hanya bentuk terlarut dan dapat dipertukarkan yang dapat dimanfeatkan oleh lamun (Udy dan Dennison 1996). Dhambahkan bahwa kapasitas sedimen kalsium karbonat dalam menyerap fosfat sangat dipengaruhi oleh ukuran sedimen, dimana sedimen hahis mempunyai kapasitas penyerapan yang paling tinggi.
Penyerapan nutrien oleh lamun dilakukan oleh daun dan akar. Penyerapan oleh daun umumnya tidak terlalu besar terutama di daerah tropik (Dawes 1981). Penyerapan nutrien dominan dilakukan oleh akar lamun (Erftemeijer 1993). Mellor et al. (1993) melaporkan tidak ditemukannya hubungan antara faktor biotik lamun dengan nutrien kolom air.

  • Substrat

     Lamun dapat ditemukan pada berbagai karakteristik substrat. Di Indonesia padang lamun dikelompokkan ke dalam enam kategori berdasarkan karakteristik tipe substratnya, yaitu lamun yang hidup di substrat lumpur, lumpur pasiran, pasir, pasir lumpuran, puing karang dan batu karang (Kiswara 1997). Selanjutnya Noor (1993) melaporkan adanya perbedaan penting antara komunitas lamun dalam lingkungan sedimen karbonat dan sedimen terrigen dalam hal struktur, kerapatan, morfologi dan biomassa.

Interaksi Biota
Selain mempunyai peran sebagai produktivitas primer, lamun juga mempunyai peran penting lain yang mengakibatkan biota disekitar padang lamun memiliki keanekaragaman yang tinggi. Berikut biota yang sering ditemukan dalam ekosistem padang lamun.

  • Makropifit Bentik.

Lamun berasosiasi dengan berbagai varietas makroalga. Sebagai contoh Kiswara (1991) melaporkan bahwa Gracillaria lichenoides yang bernilai ekonomis penting merupakan salah satu makropifit yang dominan pada padang lamun dekat Lontar, Jawa Barat. Di Filipina asosiasi lamun dengan makropifit merupakan sumberdaya ekonomis penting, dipanen untuk produksi agar (contohnya Gracillaria dan Gelidiella), pakan ternak, pupuk dan alginate (contohnya Sargassum spp.) (Fortes 1990a). Di Salabanka, Sulawesi Tengah, pertanian rumput laut di daerah laguna didominasi oleh komunitas lamun campuran menjadi aktifitas ekonomis penting. Pada studi komunitas lamun jangka panjang yang dilakukan di Kepulauan Spermonde, Verheij dan Erftemeijer (1993) mencatat 117 spesies makroalga yang berasosiasi dengan Padang Lamun di lima habitat berbeda.

  • Epifit Lamun.

Istilah epifit lamun mengacu bagi seluruh organisme autotrofik (yaitu, produsen primer) yang tinggal menetap di bawah permukaan (air) menempel pada rhizoma, batang dan daun lamun. Bagaimanapun istilah ini sering digunakan mengacu pada semua organisme (hewan atau tumbuhan) yang berkembang di lamun (Russel 1990). Kita lebih memilih istilah epifauna bagi semua organisme heterotrofik yang menempel pada bagian lamun di bawah sedimen, sementara infauna disebut bagi organisme yang hidup pada sedimen diantara rhizoma/jaringan akar lamun. Daun lamun sering terdapat kelimpahan epifit yang paling melimpah, karena lamun memiliki substrat stabil dengan akses cahaya, nutrien dan pertukaran air. Tidak seperti rumput laut lainnya (contohnya Phaeophyta), lamun tidak memiliki pertahanan kimia yang kuat (contohnya campuran phenolic) yang meyebabkan mrereka dapat dimanfaatkan sebagai substrat hidup bagi berbagai organisme menetap dan bergerak.

Komunitas epifitik dan epibentik merupakan komponen turunan dari lingkungan tiga dimensi lamun dengan menyediakan sumber makanan bagi sejumlah invertebrata serta vertebrata perumput. Klumpp et al. (1992) menunjukkan bahwa pada terminologi nilai nutrisi, komunitas epifit jauh lebih utama daripada lamun (rasio C:N epifit adalah 9:18; rasio C:N lamun adalah 17:30). Biomasa besar epifit lamun ini sangat menambahkan bagi keseluruhan nilai nutrisional tumbuhan. Meskipun demikian, Birch (1975) membandingkan padang lamun tropis dengan padang rumput miskin nutrisi.

  • Fauna.

Komunitas lamun dihuni oleh banyak jenis hewan bentik, organisme demersal serta pelagis yang menetap maupun yang tinggal sementara disana. Spesies yang sementara hidup di lamun biasanya adalah juvenil dari sejumlah organisme yang mencari makanan serta perlindungan selama masa kritis dalam siklus hidup mereka, atau mereka mungkin hanya pengunjung yang datang ke padang lamun setiap hari untuk mencari makan.

Banyak spesies epibentik baik yang tinggal menetap maupun tinggal sementara yang bernilai ekonomis, udang dan udang-udangan adalah yang bernilai ekonomis paling tinggi. Sebagai penjelas, dan bukan karena alasan ekologi maupun biologi tertentu, ada empat kelompok besar fauna yang diketahui : 1) Infauna (hewan yang hidup didalam sedimen); 2) Fauna Motil (fauna motil berasosiasi dengan lapisan permukaan sedimen; 3) Epifauna Sesil (organisme yang menempel pada bagian lamun); dan Fauna Epibentik Fauna (fauna yang berukuran besar dan bergerak diantara lamun) (Howard et al. 1989).

  • Meiofauna.

Susetiono (1994) melaporkan pada asosiasi fauna dengan Padang Lamun Enhalus acoroides monospesifik di pesisir Selatan Lombok. Infauna sedimen terdiri dari Nematoda, Foraminifera, Copepoda, Ostracoda, Turbelaria dan Polychaeta. Tingginya kelimpahan Nematoda (seperti indeks rasio kelimpahan Nematoda:Copepoda) mengindikasikan kelimpahan nutrien yang sering berasosiasi dengan land runoff. Meiofauna yang muncul secara aktif adalah Copepoda, Nematoda, Amphipoda, Cumacea, dan Ostracoda. Tingkat analisis umum-atau spesies-belum dilakukan sedemikian jauh. Berdasarkanpada informasi yang tersedia dari Teluk Kuta, Susetiono (1994) mengkonstruksikan jaring makanan sederhana pada Padang Lamun Enhalus acoroides.

Foraminifera bentik merupakan komponen penting pada komunitas lamun, tetapi hanya mendapatkan sedikit perhatian (Suhartati 1994). Di Kepulauan Seribu patch reef kompleks, padang lamun melimpah dan sering didominasi oleh asosiasi Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii (Azkab 1991). Foraminifera bentik pada kedua asosiasi spesies ini didominasi oleh subordo Miliolina dan Rotaliina (Suhartati 1994). Milionid berkarakteristik lembut, test porselin yang mengandung kristal kalsit, sementara Rotaliinid seperti kaca, test berdinding ganda yang mengandung lapisan tipis kalsit hialin radial.

  • Krustase.

Krustasea yang berasosiasi dengan lamun merupakan komponen penting dari jaring makanan di lamun. Bentuk krustase infaunal maupun epifunal berhubungan erat dengan produsen primer dan berada pada tingkatan trofik yang lebih tinggi, karena selama masa juvenil dan dewasa mereka merupakan sumber makanan utama bagi berbagai ikan dan invertebrata yang berasosiasi dengan lamun. Studi analisis gut terbaru dari ikan yang berasosiasi dengan lamun di pesisir selatan Lombok (Pristiwadi 1994), mendemonstrasikan bahwa krustase merupakan sumber makanan dominan.
Padang lamun diketahui merupakan habitat kritis bagi udang penaeid komersial penting (seperti Penaeus esculentus dan P. semisulcatus) (Bell dan Pollard 1989; Coles et al. 1993; Mellors dan Marsh 1993; Watson et al. 1993) dan lobster berduri (Panulirus ornatus). (Bell dan Pollard 1989; Poiner et al. 1989), yang tergantung pada lamun sebagai tempat mencari makan serta berlindung selam masa postlarva dan juvenil dari siklus hidup mereka.

  • Moluska.

Moluska adalah salah satu kelompok makroinvertebrata yang paling banyak diketahui berasosiasi dengan lamun di Indonesia, dan mungkin yang paling banyak diksploitasi. Sejumlah studi tentang moluska di daerah subtropik telah menunjukkan bahwa moluska merupakan komponen yang paling penting bagi ekosistem lamun, baik pada hubungannya dengan biomasa dan perannya pada aliran energi pada sistem lamun (Watson et al. 1984). Telah didemonstrasikan bahwa 20% sampai 60% biomasa epifit pada padang lamun di Filipina dimanfaatkan oleh komunitas epifauna yang didominasi oleh gastropoda (Klumpp et al. 1992). Bagaimanapun, peranan mereka pada ekosistem almun di Indonesia relative belum diketahui. Moluska utama pada padang lamun subtropis adalah detrivor dengan sangat sedikit yang langsung memakan lamun (Kikuchi 1980). Gastropoda cenderung memakan perifiton (Klumpp et al. 1989).

  • Echinodermata.

Hewan Echinodermata adalah komponen komunitas bentik di lamun yang lebih menarik dan lebih memiliki nilai ekonomi. Lima kelas echinodermata ditemukan pada ekosistem lamun di Indonesia. Dibawah ini urutan Echinodermata secara ekonomi : 1. Holothuroidea (timun laut atau teripang); 2. Echinoidea (bulu babi); 3. Asteroidea (Bintang laut); 4. Ophiuroidea (Bintang Laut Ular); 5. Crinoidea . Dari lima kelas yang ada, Echinoidea adalah kelompok yang paling penting di ekosistem lamun karibia, karena mereka adalah kelompok pemakan yang utama (Lawrance 1975, Greenway 1976).

Echinodermata pada umumnya, dengan pengecualian beberapa holothuroidea, makan pada malam hari. Bagaimanapun, Klummp et al. (1993) dilaporkan bahwa Tripneustes gratilla dan Salmacis sphaeroides makan secara terus menerus siang dan malam, tanpa bukti yang berkala. Mereka mencari sampai ke dasar substrat, memakan alga, serasah lamun dan daun lamun yang masih hidup (Klumpp et al., 1993).

  • Ikan

Di sepanjang jarak distribusinya, ekosistem lamun, baik yang luas ataupun sempit adalah habitat yang penting bagi bermacam-macam spesies ikan (Kikuchi, 1980; Pollard 1984; Bell dan Pollard 1989). Pada resensi, asosiasi ikan di lamun, mereka Bell dan Pollard (1989) mengidentifikasi 7 karakteristik utama kumpulan ikan yang berasosiasi dengan lamun. Berdasarkan Bell dan Pollard (1989) dengan beberapa perubahan, karakteristik-karakteristiknya adalah :
  1. Keanekaragaman dan kelimpahan ikan di padang lamun biasanya lebih tinggi daripada yang berdekatan dengan substrat kosong.
  2. Lamanya asosiasi ikan-lamun berbeda-beda diantara spesies dan tingkatan siklus hidup.
  3. Sebagian besar asosiasi ikan dengan padang lamun didapatkan dari plankton, jadi padang lamun adalah daerah asuhan untuk bnyak spesies yang mempunyai nilai ekonomi penting.
  4. Zooplankton dan epifauna krustasean adalah makanan utama ikan yang berasosiasi dengan lamun, dengan tumbuhan, pengurai dan komponen infauna dari jarring-jaring makanan di lamun yang dimanfaatkan oleh ikan
  5. Perbedaan yang jelas (pembagian sumberdaya) pada komposisi spesies terjadi dibanyak padang lamun.
  6. Hubungan yang kuat terjadi antara padang lamun dan habitat yang berbatasan, kelimpahan relatif dan komposisi spesies ikan di padang lamun menjadi tergantung pada tipe (terumbu karang, estuaria, mangrove) dan jarak dari habitat yang terdekat, seperti pada siklus malam hari.
  7. Kumpulan ikan dari padang lamun yang berbeda seringkali berbeda juga, walaupun dua habitat itu berdekatan.

Hutomo dan Martosewojo (1977) membagi kumpulan ikan yang berasosiasi dengan lamun di Pulau Pari menjadi 4 kategori, yaitu :
  1. Penghuni tetap, dengan memijah dan menghabiskan sebagian besarhidupnya di padang lamun (contohnya Apogon margaritoporous).
  2. Menetap dengan menghabiskan hidupnya di padang lamun dari juvenile sampai siklus hidup dewasa, tetapi memijah di luar padang lamun (contoh : Halichoeres leparensis, Pranaesus duodecimalis, Paramia quinquilineata, Gerres macrosoma, Monachantus tomentosus, M.hajam, Hemiglyphidodon plagyometopon, Synadhoides biaculeatus)
  3. Menetap hanya pada saat tahap juvenile (contoh : Siganus canaliculatus, S.virgatus, S.chrysospilos, Lethrinus spp, Scarus spp, Abudefduf spp, Monachnthus mylii, Mulloides samoensis, Pelates quadrilineatus, Upeneus tragula) dan
  4. Menetap sewaktu-waktu atau singgah hanya mengunjungi padang lamun untuk berlindung atau mencari makan.


Lamun Di Indonesia
Di Indonesia ditemukan jumlah jenis lamun yang relatif lebih rendah dibandingkan Filipina, yaitu sebanyak 12 jenis dari 7 marga. Namun demikian terdapat dua jenis lamun yang diduga ada di Indonesia namun belum dilaporkan yaitu Halophila beccarii dan Ruppia maritime* (Kiswara 1997). Dari beberapa jenis yang ada di Indonesia, terdapat jenis lamun kayu (Thalassodendron ciliatum) yang penyebarannya sangat terbatas dan terutama di wilayah timur perairan Indonesia, kecuali juga ditemukan di daerah terumbu tepi di kepulauan Riau (Tomascik et al 1997). Jenis-jenis lamun tersebut membentuk padang lamun baik yang bersifat padang lamun monospesifik maupun padang lamun campuran yang luasnya diperkirakan mencapai 30.000 km2 (Nienhuis 1993).  
  

Daftar Pustaka
Hartog, C.den.1970. Seagrass of the world. North-Holland Publ.Co.,Amsterdam
Kikuchi dan J.M. Peres. 1977. Consumer ecology of seagrass beds, pp. 147-193. In P. McRoy and C.Helferich (eds). Seagrass ecosystem. A scientific perspective. Mar.Sci.Vol 4.Marcel Dekker Inc, New York.
Menez, E.G.,R.C. Phillips dan H.P.Calumpong. 1983. Sea Grass from the Philippines. Smithsonian Cont. Mar. Sci. 21. Smithsonian Inst. Press, Washington.
http://naskleng.blogspot.com/2008/05/ekosistem-padang-lamun-definisi.html
http://web.ipb.ac.id/%7Eitkipb/SIELT/lamun.php?load=klasifikasi.php
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0310/21/iptek/638686.htm
http://pksplipb.or.id/index.php?option=com

Read more...

Ekosistem Mangrove

0 komentar

DEFINISI

Mangrove merupakan karakteristik dari bentuk tanaman pantai, estuari atau muara sungai, dan delta di tempat yang terlindung daerah tropis dan sub tropis. Dengan demikian maka mangrove merupakan ekosistem yang terdapat di antara daratan dan lautan dan pada kondisi yang sesuai mangrove akan membentuk hutan yang ekstensif dan produktif.Karena hidupnya di dekat pantai, mangrove sering juga dinamakan hutan pantai, hutan pasang surut, hutan payau, atau hutan bakau. Istilah bakau itu sendiri dalam bahasa Indonesia merupakan nama dari salah satu spesies penyusun hutan mangrove yaitu Rhizophora sp. Sehingga dalam percaturan bidang keilmuan untuk tidak membuat bias antara bakau dan mangrove maka hutan mangrove sudah ditetapkan merupakan istilah baku untuk menyebutkan hutan yang memiliki karakteristik hidup di daerah pantai.

Berkaitan dengan penggunaan istilah mangrove maka menurut FAO (1982) : mangrove adalah individu jenis tumbuhan maupun komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah pasang surut. Istilah mangrove merupakan perpaduan dari dua kata yaitu mangue dan grove. Di Eropa, ahli ekologi menggunakan istilah mangrove untuk menerangkan individu jenis dan mangal untuk komunitasnya. Hal ini juga dijelaskan oleh Macnae (1968) yang menyatakan bahwa kata nmangrove seharusnya digunakan untuk individu pohon sedangkan mangal merupakan komunitas dari beberapa jenis tumbuhan.
Hutan mangrove sering disebut hutan bakau atau hutan payau. Dinamakan hutan bakau oleh karena sebagian besar vegetasinya didominasi oleh jenis bakau, dan disebut hutan payau karena hutannya tumbuh di atas tanah yang selalu tergenang oleh air payau. Arti mangrove dalam ekologi tumbuhan digunakan untuk semak dan pohon yang tumbuh di daerah intertidal dan subtidal dangkal di rawa pasang tropika dan subtropika. Tumbuhan ini selalu hijau dan terdiri dari bermacam-macam campuran apa yang mempunyai nilai ekonomis baik untuk kepentingan rumah tangga (rumah, perabot) dan industri (pakan ternak, kertas, arang). 
Wilayah mangrove dicirikan oleh tumbuh-tumbuhan khas mangrove, terutama jenis-jenis Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Avicennia, Xylocarpus dan Acrostichum (Soerianegara,1993). Selain itu juga ditemukan jenis-jenis Lumnitzera, Aegiceras, Scyphyphora dan Nypa (Nybakken, 1986; Soerianegara, 1993). Mangrove mempunyai kecenderungan membentuk kerapatan dan keragaman struktur tegakan yang berperan penting sebagai perangkap endapan dan perlindungan terhadap erosi pantai. Sedimen dan biomassa tumbuhan mempunyai kaitan erat dalam memelihara efisiensi dan berperan sebagai penyangga antara laut dan daratan, bertanggung jawab atas kapasitasnya sebagai penyerap energi gelombang dan menghambat intrusi air laut ke daratan. Selain itu, tumbuhan tingkat tinggi menghasilkan habitat untuk perlindungan bagi hewan-hewan muda dan permukaannya bermanfaat sebagai substrat perlekatan dan pertumbuhan dari banyak organisme epifit (Nybakken.1986).
Secara umum komunitas hutan, termasuk hutan mangrove memiliki karakteristik fisiognomi yaitu dinamakan sesuai dengan jenis yang dominan berada di suatu kawasan. Misalnya di suatu kawasan hutan mangrove yang dominan adalah jenis Rhizophora sp maka hutan tersebut dinamakan hutan mangrove Rhizophora. 

Secara lebih luas dalam mendefinisikan hutan mangrove sebaiknya memperhatikan keberadaan lingkungannya termasuk sumberdaya yang ada. Berkaitan dengan hal tersebut maka Saenger et al. 1983 mendefinisikan sumberdaya mangrove sebagai :

  • Exclusive mangrove, yaitu satu atau lebih jenis pohon atau semak belukar yang hanya tumbuh di habitat mangrove
  • Non exclusive mangrove, yaitu setiap jenis tumbuhan yang tumbuh di habitat mangrove, dan keberadaannya tidak terbatas pada habitat mangrove saja
  • Biota, yaitu semua jenis biota yang berasosiasi dengan habitat mangrove
  • Proses (abrasi, sedimentasi), yaitu setiap proses yang berperan penting dalam menjaga atau memelihara keberadaan ekosistem mangrove. Keanekaragaman jenis ekosistem mangrove di Indonesia cukup tinggi.

jika dibandingkan dengan negara lain di dunia. Jumlah jenis mangrove di Indonesia mencapai 89 yang terdiri dari 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis perdu, 9 jenis liana, 29 jenis epifit, dan 2 jenis parasit (Nontji, 1987). Dari 35 jenis pohon tersebut, yang umum dijumpai di pesisir pantai adalah Avicennia sp, Sonneratia sp, Rizophora sp, Bruguiera sp, Xylocarpus sp, Ceriops sp, dan Excocaria sp.

Bentuk vegetasi dan komunitas mangrove terdiri dari 3 zone mangrove berdasarkan distribusi, karakteristik biologi, kadar garam dan intensitas penggenangan lahan yaitu:

a)        Vegetasi Inti
Jenis ini membentuk hutan mangrove di daerah zona intertidal yang mampu bertahan terhadap pengaruh salinitas (garam), yang disebut tumbuhan halophyta. Kebanyakan jenis mangrove mempunyai adaptasi khusus yang memungkinkan untuk tumbuh dan berkembang dalam substrat/lahan mangrove seperti kemampuan berkembang biak, toleransi terhadap kadar garam tinggi, kemampuan bertahan terhadap perendaman oleh pasang surut, memiliki pneumatophore atau akar napas, bersifat sukulentis dan kelenjar yang mengeluarkan garam. Lima jenis mangrove paling utama adalah Rhizophora mangle. L., R. harrisonii leechman (Rhizoporaceae), Pelliciera rhizophorae triana dan Planchon (pelliceriaceae), Avicennia germinans L ( Avicenniaceae) dan Laguncularia racemosa L. gaertn. (Combretaceae).

b)        Vegetasi marginal
Jenis ini biasanya dihubungkan dengan mangrove yang berada di darat, di rawa musiman, pantai dan/atau habitat mangrove marginal. Meskipun demikian vegetasi ini tetap tergolong mangrove. Jenis Conocarpus erecta (combretaceae) tidak ditemukan di dalam vegetasi mangrove biasa. Mora oleifera (triana), Duke (leguminosae) jumlahnya berlimpah-limpah di selatan pantai pasifik, terutama di semenanjung de osa, dimana mangrove ini berkembang dalam rawa musiman salin (25 promil). Jenis yang lain adalah Annona glabra L. (Annonaceae), Pterocarpus officinalis jacq. (Leguminosae), Hibiscus tiliaceus L. dan Pavonia spicata killip (Malvaceae). Jenis pakis-pakisan seperti Acrostichum aureum L. (Polipodiaceae) adalah yang sangat luas penyebarannya di dalam zone air payau dan merupakan suatu ancaman terhadap semaian bibit untuk regenerasi.

c)         Vegetasi fakultatif marginal
Carapa guianensis (Meliaceae) tumbuh berkembang di daerah dengan kadar garam sekitar 10 promil. Jenis lain adalah Elaeis oleifera dan Raphia taedigera. Di daerah zone inter-terrestrial dimana pengaruh iklim khatulistiwa semakin terasa banyak ditumbuhi oleh Melaleuca leucadendron rawa ( e.g. selatan Vietnam). Jenis ini banyak digunakan untuk pembangunan oleh manusia.  Lugo dan Snedaker (1974) mengidentifkasi dan menggolongkan mangrove menurut enam jenis kelompok (komunitas) berdasar pada bentuk hutan, proses geologi dan hidrologi.  Masing-Masing jenis memiliki karakteristik satuan lingkungan seperti jenis lahan dan kedalaman, kisaran kadar garam tanah/lahan, dan frekuensi penggenangan. Masing-masing kelompok mempunyai karakteristik yang sama dalam hal produksi primer, dekomposisi serasah dan ekspor karbon dengan perbedaan dalam tingkat daur ulang nutrien, dan komponen penyusun kelompok.

Suatu uraian ringkas menyangkut jenis klasifikasi hutan mangrove berdasarkan geomorfologi ditunjukkan sebagai berikut :

1.         Overwash mangrove forest 
Mangrove merah merupakan jenis yang dominan di pulau ini yang sering dibanjiri dan dibilas oleh pasang, menghasilkan ekspor bahan organik dengan tingkat yang tinggi. Tinggi pohon maksimum adalah sekitar 7 m. 

 Image

2.         Fringe mangrove forest
Mangrove fringe ini ditemukan sepanjang terusan air, digambarkan sepanjang garis pantai yang tingginya lebih dari rata-rata pasang naik. Ketinggian mangrove maksimum adalah sekitar 10 m.

Image

3.         Riverine mangrove forest
Kelompok ini mungkin adalah hutan yang tinggi letaknya sepanjang daerah pasang surut sungai dan teluk,  merupakan daerah pembilasan reguler.  Ketiga jenis bakau, yaitu putih  (Laguncularia racemosa), hitam (Avicennia germinans) dan mangrove merah (Rhizophora mangle) adalah terdapat di dalamnya. Tingginya rata- rata dapat mencapai 18-20 m.

Image

4.         Basin mangrove forest
Kelompok ini biasanya adalah jenis yang kerdil terletak di bagian dalam  rawa Karena tekanan runoff terestrial yang menyebabkan terbentuknya  cekungan atau terusan ke arah pantai.  Bakau merah terdapat dimana ada pasang surut yang membilas tetapi ke arah yang  lebih dekat pulau, mangrove putih dan  hitam lebih mendominasi. Pohon dapat  mencapai tinggi 15 m.

Image

5.         Hammock forest
Biasanya serupa dengan tipe (4) di atas tetapi mereka ditemukan pada  lokasi sedikit lebih tinggi dari area  yang melingkupi. Semua jenis ada tetapi  tingginya jarang lebih dari 5 m.

Image

6.         Scrub or dwarf forest
Jenis komunitas ini secara khas ditemukan  di pinggiran yang rendah. Semua dari tiga jenis ditemukan tetapi jarang  melebihi 1.5 m ( 4.9 kaki). Nutrient merupakan faktor pembatas.

Image

Faktor-faktor Lingkungan
Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan  mangrove di suatu lokasi adalah :
·         Fisiografi pantai (topografi)
·         Pasang (lama, durasi, rentang)
·         Gelombang dan arus  
·         Iklim (cahaya,curah hujan, suhu, angin)
·         Salinitas
·         Oksigen terlarut
·         Tanah
·         Hara
Faktor-faktor lingkungan tersebut diuraikan sebagai berikut :

·           Fisiografi pantai
Fisiografi pantai dapat mempengaruhi komposisi, distribusi spesies dan lebar hutan mangrove. Pada pantai yang landai, komposisi ekosistem mangrove lebih beragam jika dibandingkan dengan pantai yang terjal. Hal ini disebabkan karena pantai landai menyediakan ruang yang lebih luas untuk tumbuhnya mangrove sehingga distribusi spesies menjadi semakin luas dan lebar. Pada pantai yang terjal komposisi, distribusi dan lebar hutan mangrove lebih kecil karena kontur yang terjal menyulitkan pohon mangrove untuk tumbuh.

·           Pasang
Pasang yang terjadi di kawasan mangrove sangat menentukan zonasi tumbuhan dan komunitas hewan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove. Secara rinci pengaruh pasang terhadap pertumbuhan mangrove dijelaskan sebagai berikut:

·         Lama pasang :
  • Lama terjadinya pasang di kawasan mangrove dapat mempengaruhi perubahan salinitas air dimana 
  • Salinitas akan meningkat pada saat pasang dan sebaliknya akan menurun pada saat air laut surut. 
  • Perubahan salinitas yang terjadi sebagai akibat lama terjadinya pasang merupakan faktor pembatas yang mempengaruhi distribusi spesies secara horizontal. 
  • Perpindahan massa air antara air tawar dengan air laut mempengaruhi distribusi vertikal organisme.
·         Durasi pasang :
  • Struktur dan kesuburan mangrove di suatu kawasan yang memiliki jenis pasang diurnal, semi diurnal, dan campuran akan berbeda.
  • Komposisi spesies dan distribusi areal yang digenangi berbeda menurut durasi pasang atau frekuensi penggenangan. Misalnya : penggenagan sepanjang waktu maka jenis yang dominan adalah Rhizophora mucronata dan jenis Bruguiera serta Xylocarpus kadang-kadang ada.
·         Rentang pasang (tinggi pasang):
  • Akar tunjang yang dimiliki Rhizophora mucronata menjadi lebih tinggi pada lokasi yang memiliki pasang yang tinggi dan sebaliknya,
  • Pneumatophora Sonneratia sp menjadi lebih kuat dan panjang pada lokasi yang memiliki pasang yang tinggi.

·           Gelombang dan Arus
  1. Gelombang dan arus dapat merubah struktur dan fungsi ekosistem mangrove. Pada lokasi-lokasi yang memiliki gelombang dan arus yang cukup besar biasanya hutan mangrove mengalami abrasi sehingga terjadi pengurangan luasan hutan. 
  2. Gelombang dan arus juga berpengaruh langsung terhadap distribusi spesies misalnya buah atau semai Rhizophora terbawa gelombang dan arus sampai menemukan substrat yang sesuai untuk menancap dan akhirnya tumbuh. 
  3. Gelombang dan arus berpengaruh tidak langsung terhadap sedimentasi pantai dan pembentukan padatan-padatan pasir di muara sungai. Terjadinya sedimentasi dan padatan-padatan pasir ini merupakan substrat yang baik untuk menunjang pertumbuhan mangrove 
  4. Gelombang dan arus mempengaruhi daya tahan organisme akuatik melalui transportasi nutrien-nutrien penting dari mangrove ke laut. Nutrien-nutrien yang berasal dari hasil dekomposisi serasah maupun yang berasal dari runoff daratan dan terjebak di hutan mangrove akan terbawa oleh arus dan gelombang ke laut pada saat surut.

·           Iklim
Mempengaruhi perkembangan tumbuhan dan perubahan faktor fisik (substrat dan air). Pengaruh iklim terhadap pertimbuhan mangrove melalui cahaya, curah hujan, suhu, dan angin. Penjelasan mengenai faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
  1.     Cahaya
  • Cahaya berpengaruh terhadap proses fotosintesis, respirasi, fisiologi, dan struktur fisik mangrove. 
  • Intensitas, kualitas, lama (mangrove adalah tumbuhan long day plants yang membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi sehingga sesuai untuk hidup di daerah tropis) pencahayaan mempengaruhi pertumbuhan mangrove. 
  • Laju pertumbuhan tahunan mangrove yang berada di bawah naungan sinar matahari lebih kecil dan sedangkan laju kematian adalah sebaliknya, 
  • Cahaya berpengaruh terhadap perbungaan dan germinasi dimana tumbuhan yang berada di luar kelompok (gerombol) akan menghasilkan lebih banyak bunga karena mendapat sinar matahari lebih banyak daripada tumbuhan yang berada di dalam gerombol.

2.         Curah hujan
  • Jumlah, lama, dan distribusi hujan mempengaruhi perkembangan tumbuhan mangrove.
  • Curah hujan yang terjadi mempengaruhi kondisi udara, suhu air, salinitas air dan tanah.
  • Curah hujan optimum pada suatu lokasi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mangrove adalah yang berada pada kisaran 1500-3000 mm/tahun.

3.         Suhu
  • Suhu berperan penting dalam proses fisiologis (fotosintesis dan respirasi).
  • Produksi daun baru Avicennia marina terjadi pada suhu 18-20C dan jika suhu lebih tinggi maka produksi menjadi berkurang.
  • Rhizophora stylosa, Ceriops, Excocaria, Lumnitzera tumbuh optimal pada suhu 26-28C.
  • Bruguiera tumbuah optimal pada suhu 27C, dan Xylocarpus tumbuh optimal pada suhu 21-26C.

4.         Angin
  • Angin mempengaruhi terjadinya gelombang dan arus.
  • Angin merupakan agen polinasi dan diseminasi biji sehingga membantu terjadinya proses reproduksi tumbuhan mangrove.

·           Salinitas
  1. Salinitas optimum yang dibutuhkan mangrove untuk tumbuh berkisar antara 10-30 ppt.
  2. Salinitas secara langsung dapat mempengaruhi laju pertumbuhan dan zonasi mangrove, hal ini terkait dengan frekuensi penggenangan.
  3. Salinitas air akan meningkat jika pada siang hari cuaca panas dan dalam keadaan pasang.
  4. Salinitas air tanah lebih rendah dari salinitas air.

·           Oksigen Terlarut 
  1. Oksigen terlarut berperan penting dalam dekomposisi serasah karena bakteri dan fungsi yang bertindak sebagai dekomposer membutuhkan oksigen untuk kehidupannya.
  2. Oksigen terlarut juga penting dalam proses respirasi dan fotosintesis.
  3. Oksigen terlarut berada dalam kondisi tertinggi pada siang hari dan kondisi terendah pada malam hari.

·           Substrat
  1. Karakteristik substrat merupakan faktor pembatas terhadap pertumbuhan mangrove
  2. Rhizophora mucronata dapat tumbuh baik pada substrat yang dalam/tebal dan berlumpur
  3. Avicennia marina dan Bruguiera hidup pada tanah lumpur berpasir
  4. Tekstur dan konsentrasi ion mempunyai susunan jenis dan kerapatan tegakan Misalnya jika komposisi substrat lebih banyak liat (clay) dan debu (silt) maka tegakan menjadi lebih rapat
  5. Konsentrasi kation Na>Mg>Ca atau K akan membentuk konfigurasi hutan Avicennia/Sonneratia/Rhizophora/Bruguiera
  6. Mg>Ca>Na atau K yang ada adalah Nipah
  7. Ca>Mg, Na atau K yang ada adalah Melauleuca

·           Hara
Unsur hara yang terdapat di ekosistem mangrove terdiri dari hara inorganik dan organik.
1.         Inorganik : P,K,Ca,Mg,Na
2.         Organik : Allochtonous dan Autochtonous (fitoplankton, bakteri, alga)


Daftar Pustaka
FAO. Management and Utilization of mangroves in Asia Pasific. FAO Environmental Paper 3, FAO, Rome. 1983 Hutching, P and P.Saenger. Ecology of Mangroves. University of Queensland,
London. 1987 Mann, K.H. Ecology of Coastal Waters. Second Edition. Blackwell Science. 2000 Saenger, P. E.J, Hegerl, and J.P.S. Davie. Global Status of Mangrove Ecosystems.
Read more...
Jumat, 09 Desember 2011

Hewan-Hewan Laut Beracun

0 komentar
Kategori Pertama: Sangat Berbahaya!

Gurita (keluarga Octopodidae)
Tidak seperti dugaan banyak orang, mahluk laut yang dapat membunuh manusia dengan mudah bukanlah ular laut yang sangat berbisa, melainkan mahluk-mahluk kecil yang besarnya tidak lebih dari 5 cm saja, gurita bercincin biru (Blue-ringed octopus, Hapalochlaena sp.) Mahluk yang banyak bersembunyi di celah-celah batu karang ini mempunyai racun yang terbukti dapat mengakibatkan kematian bagi manusia hanya dalam hitungan jam saja. Yang lebih parah lagi, gigitannya tidak terasa dikarenakan giginya, yang berbentuk seperti paruh burung, sangatlah tajam. Di daerah sekitar gigi inilah kelenjar penghasil bisa gurita terdapat. Tidak semua gurita memang beracun fatal, tapi beberapa jenis selain tersebut di atas diketahui juga dapat mengakibatkan kematian bagi manusia.


Siput laut (Moluska)
Memang tidak semua siput laut mempunyai racun yang dapat berakibat fatal bagi manusia, tapi ada beberapa di antaranya yang memang terbukti mempunyai racun yang mematikan. Siput Tekstil (Textile Cone, Conus textile), disebut demikian karena cangkangnya yang mempunyai corak warna mirip dengan tekstil kain. Hewan ini sering mengakibatkan kecelakaan terutama pada penyelam-penyelam yang kekurangan informasi tentang mahluk laut yang beracun ini. Dikarenakan indahnyanya cangkang dari siput ini banyak penyelam yang kemudian mengambilnya hidup-hidup dan menaruhnya dalam kantung selamnya. Siput ini mempunyai semacam belalai yang dilengkapi dengan gigi tajam berbentuk harpun yang mengandung racun yang biasanya digunakan untuk menyengat mahluk laut lain yang menjadi mangsanya. Dengan gigi ini dengan mudah mereka menusuk baju penyelam dan melukainya sebagai usaha untuk melarikan diri. Racun dari siput ini diketahui cukup ampuh untuk membunuh manusia. 



Ular laut (keluarga Elapidae)
Beberapa jenis ular laut juga mempunyai bisa yang tak kalah mematikannya dibandingkan dengan sepupunya yang tinggal di darat dan perairan tawar. Dan kecelakaan-kecelakaan yang dapat terjadi tidaklah lebih dari usaha ular itu untuk mempertahankan keselamatan dirinya. Ular laut juga jelas bukanlah hewan yang dapat dikategorikan sebagai hewan perliharaan. Untuk itu hindari usaha untuk memeliharanya.




Ubur-ubur Kotak

Box jellyfish (Chironex fleckerii) atau ubur-ubur kotak adalah salah satu dari sekian banyak ubur-ubur yang mempunyai sengatan yang berbahaya. Kecelakaan sering terjadi pada para penyelam dan perenang di laut.




Ikan Kodok (Frogfish, Anglerfish, dan lain-lain dari keluarga Scorpaenidae)
Beberapa ikan dari keluarga ini mempunyai bisa yang mampu untuk membunuh manusia. Meskipun Lionfish dan Scorpion fish juga dari keluarga yang sama, tapi bisa mereka tidaklah sefatal Frogfish dan Anglerfish.
      Frogfish dan Anglerfish hampir jarang dijumpai di pasaran karena mereka adalah jenis ikan yang ‘kurang beruntung’ dari segi warnanya -  kebanyakan coklat dan berwarna seperti pasir -  tidak cocok sebagai penghias akuarium. Tapi beberapa jenis juga mempunyai warna yang sangat cerah dan bagus untuk dijadikan penghias akuarium.

        Karena ikan ini jarang dijumpai di pasaran, kemungkinan terjadinya kecelakaan dengan mereka juga jarang. Hanya saja peringatan perlu diberikan bagi mereka yang suka berjalan-jalan menyusuri pantai berkarang. Karena ikan-ikan ini yang berwarna sedemikian rupa sehingga di alam rupa mereka hampir tidak dapat dibedakan dari batu karang di sekeliling mereka, maka kontak yang terjadi baik dengan menginjak atau menyentuh dengan tidak sengaja dapat terjadi. Pertolongan pertama dengan air panas bisa dilakukan terhadap korban ikan ini.


Kategori Kedua: Cukup berbahaya dan mematikan jika tidak ditangani secara intensif.
Portuguese Man o’ War
Hewan yang disebut sebagai Kapal Perang Portugis ini adalah salah satu dari sekian banyak jenis ubur-ubur di laut. Hanya saja karena tudungnya yang berisi udara, ubur-ubur berwarna biru ini tidak berada di dalam air, melainkan mengapung dan terlihat seperti kapal perang di permukaan air. Ubur-ubur Kapal Perang Portugis yang dewasa, berdiameter tudung lebih kurang 15cm, mempunyai tentakel (kaki yang menjuntai) yang relatif sangat panjang, bisa mencapai 2 meter! Perenang di laut sebaiknya meninggalkan lokasi renang jika ubur-ubur ini sedang berada di sana.
Di kaki inilah sel-sel penyengat (nematocyst) terdapat. Jika tentakel Ubur-ubur Kapal Perang Portugis menempel pada kulit seseorang, maka tentakel ini akan melekat dengan kuat seperti mengandung lem yang kuat dan sulit untuk dilepaskan. Tentakel yang tipis ini juga mudah putus dan usaha untuk mengangkatnya dengan menggunakan tangan kosong juga tidak mudah dilakukan, selain juga menambah luka sengatan lain pada tangan tersebut.
            Jika seseorang terkena sengatan Ubur-ubur Kapal Perang Portugis, maka sensasi yang pertama adalah rasa gatal luar biasa dan diikuti dengan rasa terbakar atau sakit yang luar biasa hanya dalam beberapa menit saja. Jika daya tahan tubuh seorang korban kurang kuat (biasanya anak-anak), maka dalam waktu setengah jam korban akan pingsan.

            Pertolongan medis sangat diperlukan. Seberapa jauh pun tempat kejadian dari instalasi medis, usaha evakuasi harus dilakukan dan diusahakan secepatnya. Meskipun sengatan Ubur-ubur Kapal Perang Portugis diketahui tidaklah terlalu fatal, tapi bagi korban dengan daya tubuh yang tidak kuat maka kehilangan nyawa bukanlah hal yang mustahil.


Pari Penyengat (Sting Ray)
Pari Penyengat mempunyai sengat di tengah ekornya berupa semacam tanduk kecil yang bisa diarahkan ke atas untuk melindungi dirinya. Banyak pari laut hidup di pantai tidak berkarang dan mencari mangsa berupa moluska-moluska yang berada di dalam pasir. Kemungkinan sengatan sering terjadi pada kaki perenang yang menginjaknya dengan tidak sengaja.
       Beberapa jenis ikan laut ini juga tinggal di daerah berkarang dan mempunyai warna yang relatif lebih indah daripada spesies yang tersebut di atas. Ikan-ikan pari ini biasanya relatif lebih kecil dan cocok untuk dikoleksi sebagai penghias akuarium. Untuk itu penanganan yang hati-hati perlu dilakukan oleh akuaris untuk menghindari sengatannya.
       Ada cara lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi sengatan ikan pari ini adalah dengan ‘mengamputasi’ sengat dari pari tersebut. Yaitu dengan cara ikan pari dipegang dan tanduk penyengat dicabut dengan menggunakan tang atau alat lain. Tetapi cara ini hanya bersifat sementara saja karena tanduk sengatnya akan tumbuh kembali setelah beberapa bulan. Efek dari sengatan pari ini berupa rasa sakit yang cukup kuat hingga kehilangan kesadaran diri.

Millepora (Karang Api)
Sepintas Karang Api mirip dengan bunga karang lain dari Class Anthozoa (koral dan anemone) yang relatif sengatannya tidaklah berakibat kesakitan bagi manusia. Tetapi sengatan Karang Api bisa mengakibatkan rasa sakit atau terbakar yang sangat kuat.
     Meskipun Karang Api juga termasuk bunga karang yang mudah untuk dipelihara di dalam akuarium, tetapi lebih bijak jika pemeliharaannya tidak dilakukan karena seringnya terjadi kontak antara penghobi dan bunga karang peliharaannya. Efek yang mirip dengan sengatan Karang Api adalah Anemone Api.

Lionfish atau Scorpionfish (Pterois volitans, dan beberapa jenis lain yang mirip)
Tidak seperti sepupu mereka Frogfish dan Anglerfish, Scorpionfish atau Lionfish ini  mempunyai bisa yang relatif tidak berakibat fatal bagi manusia, meskipun rasa sakit dan kejang dapat dialami oleh korban. Bisa ikan ini terdapat pada ujung-ujung sirip atas renangnya.
      Rasa sakit yang hampir sama bisa didapat dari racun pada ikan Samadar Cicit (FoxFace, Siganus vulpinus) dan Lele Laut (Striped Catfish, Plotosus lineatus). Hanya saja karena sifat pemalu ikan-ikan yang disebut terakhir ini, maka jumlah kecelakaan dengannya relatif lebih jarang tejadi.

Letter Six, Botana Naso, dan berbagai Botana lainnya
      Letter Six (Pacanthurus hepatus) atau si Dory dalam film Nemo, Botana Naso (Naso Tang) dan berbagai jenis botana lainnya dikenal dari keluarga Acanthuridae atau Surgeonfish (dokter bedah) karena pada ikan-ikan ini yang sudah dewasa terdapat semacam scalpel (pisau bedah yang tajam) pada bagian ekornya.

      Tidak ada literatur yang menyebutkan bahwa ‘pisau’ ini mengandung racun, tetapi dari berbagai sumber yang telah mengalami kecelakaan langsung dengannya disebutkan bahwa rasa sakit juga dialami oleh korban-korban ‘dokter bedah’ ini.



Kategori Ketiga: Efek sakit ringan atau efek-efek lain.

Efek sakit ringan atau efek-efek lainnya bisa disebabkan oleh kontak dengan nematocyst dengan tingkat penetrasi yang kecil atau keracunan lendir koral (mucus) melalui selaput lendir manusia seperti bibir, mata, hidung dan lain-lain.
       Seperti disebutkan dalam box, penetrasi nematocyst ringan tetap dapat terjadi jika yang terkena adalah daerah dengan ketebalan kulit yang relatif lebih tipis dibandingkan dengan ujung jari manusia. Nematocyst dari beberapa jenis anemone seperti anemone clown atau anemone karpet bisa mengakibatkan kejang ringan. Sengatan nematocyst yang berupa seperti luka bakar karena sundutan rokok bisa melekat sampai dengan satu bulan.
     Untuk keracunan lendir koral bisa terjadi karena kurangnya kebersihan dari akuaris sendiri, misalnya sesudah menangani atau memegang koral kemudian tanpa mencuci tangannya. Lendir dari polyp kancing (Palythoa sp.) bisa masuk melalui mulut. Beberapa laporan menyebutkan bahwa bibir menjadi terasa tebal, sulit menggerakkan mulut, dan pembengkakan pada bibir. Pertolongan medis sangat dianjurkan untuk jenis keracunan seperti ini, meski belum pernah diketahui adanya akibat yang fatal dari keracunan lendir koral ini.
  
Pertolongan Pertama
Pertolongan pertama hanya bisa dilakukan terhadap korban dari kategori kedua dan ketiga, meskipun usaha pertolongan terhadap kategori pertama tetap harus dilakukan, tapi pertolongan secara medislah yang harus diutamakan.
   Pertolongan pertama yang bisa dilakukan terhadap korban-korban hewan laut adalah dengan menggunakan air hangat-panas. Semua racun hewan laut, baik itu yang terdapat pada nematocyst Cnidaria ataupun bisa dari gurita, ular laut, duri ikan, dan lain-lain, adalah dalam bentuk protein. Sifat dari protein adalah susunan kimiawi mereka akan rusak jika terkena temperatur yang panas. Jika susunan kimiawi protein ini rusak, maka dengan sendirinya sifat racun dari suatu protein akan hilang dengan sendirinya.
      Untuk itu pertolongan pertama yang dapat diberikan pada korban adalah dengan merendam tempat terjadinya kontak dengan air sepanas mungkin, di mana penderita masih bisa menahan rasa panas ini. Hati-hati menggunakan air yang terlalu panas sehingga malah mengakibatkan luka bakar yang sesungguhnya!
        Usahakan merendam luka dengan daerah sekitarnya untuk mengatasi racun yang sudah mulai menyebar melalui jaringan pembuluh darah. Misalnya jika yang terkena adalah ujung jari, maka diusahakan seluruh lengan juga direndam dengan air panas.
       Setelah beberapa menit (sekitar 10 sampai dengan 15 menit) pertolongan pertama ini dilakukan, maka usaha perawatan medis tetap tidak boleh dikesampingkan. Selain usaha pertolongan dan perawatan di atas, sebaiknya usaha menghidari adalah yang terbaik. Terutama untuk kejadian yang masuk pada kategori fatal. 
Read more...

Labels

 
PERPUSTAKAAN MARINE SCIENCE 07 © 2011

TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG KE LAMAN KAMI